Eksistensialisme Karl Jaspers
Jaspers yaitu salah satu ikon dari jenis pedoman yang disebut sebagai filsafat eksistensialisme. Eksistensialis yaitu nama yang digunakan Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya "Existenzphilosophie" (1938). Existenzphilosophie terdiri dari tiga jilid : 1. Orientasi dalam dunia, 2. Penerangan eksistensi, 3. Metafisika
Orientasi dalam dunia
Jaspers membedakan filsafatnya dengan ilmu pengetahuan, alasannya yaitu menurutnya ada dua cara untuk berorientasi dalam dunia, ilmu pengetahuan positif dan filsafat. Ilmu pengetahuan menyidik realitas berdasarkan beberapa aspek tertentu. Tetapi ilmu pengetahuan tidak menghasilkan pengetahuan yang definitif. Ilmu pengetahuan hasilnya menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang tidak sanggup dijawab oleh ilmu pengetahuan itu sendiri, menyerupai apakah ilmu pengetahuan? Apakah itu realitas? Apakah itu dunia? Di sini kita akan menjumpai bahwa orientasi ilmiah pada hasilnya akan mempersiapkan dan akan membangkitkan orientasi filosofis.
Hasil ilmu pengetahuan dijalankan oleh semacam “kesadaran umum”. Dengan demikian ilmu pengetahuan memang menyajikan suatu kontrol efisien terhadap dogmatism dalam agama, politik atau filsafat, tetapi pada dasarnya ia hanya menghasilkan suatu pengetahuan yang dangkal, suatu mitologi yang sanggup dijalankan.
Hal tersebut sama sekali tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan harus ditolak, hal tersebut hanya berarti bahwa ilmu pengetahuan harus dibedakan dengan filsafat. Dan suatu filsafat ilmiah atau ilmu fisafat bagi Jaspers merupakan kontradiksi. Filsafat bertolak dari pengalaman sebagai saya yang sama sekali unik. Filsafat tugasnya ialah menyelami, melukiskan, dan menganalisis pengalaman sebagai aku. Pengalaman tersebut merupakan satu-satunya dasar bagi ucapan-ucapan filsafat dan bagi pengetahuan kita perihal realitas. Namun, bukankah filsafat serupa itu merupakan suatu usaha yang mustahil, alasannya yaitu pengalaman selalu bersifat individual, sedangkan filsafat tentu mau merumuskan sesuatu yang berlaku bagi umum? Jaspers menjawab bahwa biarpun dalam konsepsi filsafat itu suatu ontologi universal tidak mungkin, namun para individu sanggup membandingkan satu sama lain pengalaman mereka sebagai “aku”. Filsafat ini mengakui semacam verifikasi intersubjektif.
Penerangan eksistensi
Bagian yang paling sentral dalam buku Existenzphilosophie tersebut yaitu penerangan eksistensi. Dengan menerangi eksistensi, kita mencapai “aku” berdasarkan intinya. Dengan menunjukan keberadaan si penanya seolah-olah sanggup masuk pada dirinya sendiri. Semua cara pengenalan yang lain hanya membuat subjek menjadi objek belaka dan lantaran itu tidak pernah mencapai saya yang sebenarnya. Bagi Jaspers keberadaan yaitu yang paling berharga dan paling otentik dalam diri manusia. Eksistensi yaitu saya yang sebenarnya, yang bersifat unik dan sama sekali tidak objektif. Dengan tak henti-hentinya keberadaan itu terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru. Biarpun pendekatan konseptual tidak sanggup mencapai eksistensi, namun keberadaan itu terbuka bagi pengalaman.
Eksistensi yaitu penghayatan mengenai kebebasan total yang merupakan inti manusia. Eksistensi sanggup dihayati, sanggup diterangi melalui refleksi filosofis dan sanggup dikomunikasikan dengan orang lain. Jaspers membedakan keberadaan dengan Dasein. Dasein yaitu keberadaan empiris insan sejauh memiliki ciri-ciri tertentu dan sanggup dilukiskan dari luar. Dasein sanggup menjadi objek pendekatan teoritis. Mencampuradukkan keberadaan sebagai dasar otentik insan dengan Dasein akan mengakibatkan materialisme. Sedangkan mengorbankan Dasein kepada eksistensi, akan berakhir dengan nihilisme. Jalan tengah antara dua ekstrim ini yaitu suatu ketegangan tetap antara Dasein dan keberadaan yang tidak mungkin ditiadakan.
Manusia tidak pernah terlepas dari situasi-situasi tertentu. Hidup dan bertindak sebagai insan berarti mengubah dan membuat situasi-situasi. Tetapi betapa pun besar perubahan-perubahan yang saya jalankan dengan acara saya, selalu tinggal bahwa saya terikat pada situasi-situasi. Bahwa saya berada dalam situasi-situasi tidak bisa ditiadakan. Hal itu merupakan "situasi batas" (grenzsituation) kata Jaspers. Dengan situasi batas dimaksudkan situasi yang tidak bisa dihindari. Di sini keberadaan menemui batas yang tidak sanggup dilewati. "Batas" berarti bahwa di belakangnya terdapat sesuatu, tetapi hal itu tidak terbuka bagi Dasein. Hanya keberadaan sanggup mengalami situasi batas dan, yang lebih penting lagi, dengan mengalami situasi batas keberadaan sanggup menghayati dirinya sendiri sebagai eksistensi. Situasi batas dianggap begitu hakiki oleh Jaspers sehingga ia mengatakan, "Mengalami situasi batas dan bereksistensi yaitu hal yang sama". Orang yang tidak hidup dengan cara eksistensial akan menghilangkan situasi batas, khususnya kematian, menyerupai akan kita lihat lagi. Ia akan menutup mata, sehingga ia tidak tahu menahu perihal situasi batas. Ia hanya akan memperhatikan situasi-situasi konkrit yang sanggup ditangani dan dikuasai, supaya ia memperoleh laba dengannya.
Dengan situasi batas dimaksudkan Jaspers secara konkrit pengalaman-pengalaman seperti, kematian, kesengsaraan, perjuangan, kebersalahan, ketergantungan pada nasib. Di antara semua situasi batas ini tentunya yang paling dramatis yaitu kematian. Dengan mengetahui perihal janjkematian pada umumnya, belum ada situasi batas. Sebagai situasi batas janjkematian dialami secara eksistensial dan konkrit, janjkematian seorang tercinta atau janjkematian saya sendiri yang semakin mendekat. Kematian mengakibatkan rasa takut, tetapi juga menyempurnakan eksistensi, alasannya yaitu kesadaran akan janjkematian serta merta mendesak saya untuk hidup otentik.
Kesadaran akan janjkematian yang tak terhindarkan akan memberi keberanian dan integritas. Oleh karenanya insan memperoleh suatu pandangan otentik perihal hal-hal yang paling penting dalam hidup. Kesengsaraan yang terdapat dalam banyak bentuk, sanggup dialami juga sebagai situasi batas. Dalam penderitaan dan kemalangan, lebih besar kemungkinan bahwa insan akan mencapai keberadaan otentik daripada dalam kemakmuran dan kebahagiaan yang tak terancam. Dalam keadaan makmur yang berlimpah-limpah arti keberadaan sering kali tinggal tersembunyi. Kesengsaraan itu mentahirkan. Oleh lantaran itu kesengsaraan tidak jarang menjadi jalan menuju pengalaman perihal "Transendensi". Kebersalahan (guilt) merupakan situasi batas yang lain lagi. Perbuatan-perbuatan saya memiliki akibat-akibat yang tidak dimaksudkan dan tidak diketahui sebelumnya. Apa lagi, motif-motif bagi perbuatan-perbuatan saya tidak selalu terang untuk orang lain maupun untuk saya sendiri dan sering dicampuri dengan motif-motif yang kurang ikhlas. Mau tidak mau saya bersalah, karena, berdasarkan kebebasan total pada dikala yang menentukan, saya sanggup menentukan cara lain. Manusia yang sungguh-sungguh bereksistensi tidak mengingkari kebersalahannya. Dengan mendapatkan kebersalahannya ia menyatakan bahwa kebebasan kita menang atas nasib melulu.
Dengan itu kita sudah menyinggung kebebasan, suatu tema penting dalam filsafat Jaspers, menyerupai halnya dalam setiap eksistensialisme. Kebebasan berarti memilih, menyadari, mengidentifikasi diri dengan dirinya sendiri. Kebebasan yaitu inti kehidupan manusia. Saya ada dalam arti kata yang sebetulnya sejauh saya menentukan secara bebas. Dalam bidang kebebasan, Jaspers tidak seekstrim Sartre, lantaran ia lebih menggarisbawahi historisitas manusia, terlebih pilihan-pilihannya di waktu lampau. Tetapi di dalam batas-batas historisitas itu kebebasan saya bersifat total. Kebebasan dialami sebagai spotanitas dan aktivitas. Karena itu perilaku melibatkan diri harus dianggap lebih hakiki bagi keberadaan daripada perilaku teoretis. Sebetulnya, alasan utama untuk melaksanakan "penerangan eksistensi" tidak lain daripada mengerti dan berguru memakai kebebasan.
Hubungan insan dengan sesama insan merupakan tema lain yang diberi banyak perhatian dalam buku Jaspers. Penerangan keberadaan tidak sanggup dicapai, kalau saya tidak rela membuka diri untuk orang lain. Eksistensi gres hingga terwujud, jikalau saya memberanikan diri secara radikal dan tanpa syarat menyerahkan diri kepada orang lain. Hal ini berlangsung dalam komunikasi, suatu pengertian yang memainkan peranan penting sekali dalam pedoman Jaspers. Komunikasi hanya sanggup berlangsung antara keberadaan dengan eksistensi. Ia melukiskan komunikasi yang sejati sebagai perasaan bahwa sudah dari baka orang mengenal satu sama lain. Puncaknya terdapat dalam cinta. Seperti diakuinya sendiri, dengan begitu menekankan komunikasi Jaspers mengungkapkan suatu pengalaman pribadi, alasannya yaitu komunikasi selalu menduduki kawasan istimewa dalam hidupnya (komunikasi dengan orang tua, sahabat-sahabatnya , dan khususnya Ernest Mayer, teristimewa dengan istrinya Gerturd Mayer)
Metafisika
Berdasarkan orientasi dalam dunia sudah menjadi terang bahwa dunia tidak merupakan Ada yang sebenarnya, bahwa Ada yang sebetulnya mengatasi segala realitas duniawi atau dengan kata lain bersifat transenden. Tetapi pengalaman ini hanya bersifat negatif, berarti pedoman menghadapi tapal batas yang tidak mungkin di lewati. Apa yang hanya dialami secara negatif dalam orientasi saya dalam dunia, tampak secara positif dalam penerangan eksistensi. Dalam komunikasi yang sejati dan dalam situasi-situasi batas, saya mengalami "Transendensi". Pengalaman eksistensial perihal Transendensi tidak sanggup dirumuskan dengan memuaskan, lantaran Transendensi itu merupakan yang tak terperikan dan yang tak sanggup dikenal. Karena kita tak sanggup memikirkan "yang Transenden" secara objektif (sebagai objek), kita hanya sanggup berbicara perihal pengalaman mengenai Transendensi secara simbolis.
Eksistensi tidak memiliki dasarnya dalam dirinya sendiri, tetapi dasarnya ialah transendensi. Baru lantaran korelasi dengan Transendensi, insan menjadi keberadaan yang sungguh-sungguh. Yang dimaksudkan Jaspers dengan Transendensi dikenal dalam agama dengan nama "Allah". Maka dari itu Jaspers sanggup menyampaikan juga: Setiap keberadaan secara pribadi terarah kepada Allah.
Transendensi tidak berstatus objek dan tidak bisa dijadikan objek bagi pemikiran. Transendensi hanya bisa didekati melalui Chiffren, suatu istilah yang dipinjam Jaspers dari Pascal. Yang dimaksudkannya dengan Chiffren (Inggris:ciphers) ialah simbol-simbol atau goresan pena sandi yang menunjuk kepada "yang Transendensi". Tugas utama metafisika ialah membaca dan menginterpretasikan simbol-simbol itu. Simbol-simbol itu terdapat dalam banyak bentuk. Bisa terjadi secara mendadak dan impulsif suatu data empiris menjadi simbol, misalnya, pemandangan alam yang sangat indah. Tetapi simbol-simbol itu terdapat juga dalam kesenian atau agama (mitos-mitos, dogma-dogma, diskusi-diskusi teologis). Jadi, berdasarkan Jaspers dogma-dogma religius dihentikan dimengerti secara harfiah, tetapi harus ditafsirkan secara simbolis. Dalam konteks ini sanggup kita mengerti terjadinya diskusi antara Karl Jaspers dengan teolog protestan besar, Rudolf Bultmann, perihal duduk kasus demitologisasi. Menurut Bultmann, agama Nasrani harus dibersihkan dari segala unsur mistis, inilah satu-satunya cara untuk mencocokkan agama Nasrani dengan zaman modern. Tetapi berdasarkan Jaspers agama tidak sanggup dilepaskan dari unsur-unsur mistisnya, lantaran mitologi harus dianggap hakiki bagi agama itu sendiri. Juga filsafat-filsafat spekulatif yang besar dipandang oleh Jaspers sebagai simbol-simbol, filsafat-filsafat ini merupakan usaha untuk membaca goresan pena sandi (tentang Transendensi) dan hasilnya filsafat-filsafat itu sendiri menjadi goresan pena sandi juga.
Dalam karangan-karangan setelah filsafat, Jaspers mengemukakan pengertian das Umgreifende untuk melengkapi pemikirannya perihal Transendensi. Ini menjadi istilah kunci dalam metafisikanya. Kata das Umgreifende itu sukar untuk diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Dalam terjemahan Inggris umumnya digunakan the Encompassing, dalam bahasa Indonesia sanggup kita pakai "yang melingkupi".
Kalau saya selaku filsuf berusaha berefleksi perihal Ada, selalu saya berkecenderungan menjadikan Ada suatu objek bagi saya sebagai subjek. Tetapi Ada tidak sanggup dihadapkan kepada saya sebagai subjek, alasannya yaitu saya sendiri (dan umat insan seluruhnya) termasuk Ada itu. Untuk mempelajari Ada, kita harus mengatasi oposisi antara subjek dan objek itu dan kemungkinan itu disajikan, jikalau kita mengerti ada sebagai "yang melingkupi". Ada dalam keseluruhannya tidak merupakan objek dan tidak merupakan subjek, Ada itu ialah yang Melingkupi. Dan ada oposisi lain lagi yang sanggup dihindari dengan memakai konsep tersebut, yaitu oposisi antara Ada dan ketiadaan. Setiap subjek kita pikirkan sebagai berbeda dengan objek lain, sehingga jikalau kita mau memikirkan Ada pada umumnya, kita berkecenderungan untuk mempertentangkan dengan ketiadaan. Memikirkan sesuatu berarti melepaskannya dari "yang Melingkupi". Tetapi "yang Melingkupi" memuat segala sesuatu, sehingga tidak sanggup dipertentangkan dengan apa pun juga.
Menurut Jaspers, melalui jalan filosofis ini kita juga sanggup mengerti lebih baik arti mistik. Sejak ribuan tahun, di Timur maupun di Barat, para mistisi menyampaikan bahwa insan bisa mengatasi ketegangan antara subjek dan objek dengan kesatuan antara kedua-duanya, sehingga objektivitas lenyap, dan "aku" terlebur. Para mistisi menekankan juga bahwa pengalaman mereka itu tidak sanggup dirumuskan. Bahasa kita memang selalu cenderung untuk mengobjektivikasikan.
Di sini tidak mungkin tidak mungkin membahas lebih terperinci pedoman Jaspers perihal "yang Melingkupi" yang serba kaya dan serba sulit itu. Dari satu segi sanggup dikatakan bahwa Allah dan dunia merupakan "yang Melingkupi". Tetapi dari segi lain sanggup dikatakan pula bahwa kita sendiri yaitu "yang Melingkupi".
Download di Sini
Baca Juga
Karl Jaspers. Biografi
Sumber:
Bertens, K. "Filsafat Barat Kontemporer, Prancis". 2001. Gramedia. Jakarta
Orientasi dalam dunia
Jaspers membedakan filsafatnya dengan ilmu pengetahuan, alasannya yaitu menurutnya ada dua cara untuk berorientasi dalam dunia, ilmu pengetahuan positif dan filsafat. Ilmu pengetahuan menyidik realitas berdasarkan beberapa aspek tertentu. Tetapi ilmu pengetahuan tidak menghasilkan pengetahuan yang definitif. Ilmu pengetahuan hasilnya menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang tidak sanggup dijawab oleh ilmu pengetahuan itu sendiri, menyerupai apakah ilmu pengetahuan? Apakah itu realitas? Apakah itu dunia? Di sini kita akan menjumpai bahwa orientasi ilmiah pada hasilnya akan mempersiapkan dan akan membangkitkan orientasi filosofis.
Hal tersebut sama sekali tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan harus ditolak, hal tersebut hanya berarti bahwa ilmu pengetahuan harus dibedakan dengan filsafat. Dan suatu filsafat ilmiah atau ilmu fisafat bagi Jaspers merupakan kontradiksi. Filsafat bertolak dari pengalaman sebagai saya yang sama sekali unik. Filsafat tugasnya ialah menyelami, melukiskan, dan menganalisis pengalaman sebagai aku. Pengalaman tersebut merupakan satu-satunya dasar bagi ucapan-ucapan filsafat dan bagi pengetahuan kita perihal realitas. Namun, bukankah filsafat serupa itu merupakan suatu usaha yang mustahil, alasannya yaitu pengalaman selalu bersifat individual, sedangkan filsafat tentu mau merumuskan sesuatu yang berlaku bagi umum? Jaspers menjawab bahwa biarpun dalam konsepsi filsafat itu suatu ontologi universal tidak mungkin, namun para individu sanggup membandingkan satu sama lain pengalaman mereka sebagai “aku”. Filsafat ini mengakui semacam verifikasi intersubjektif.
Penerangan eksistensi
Bagian yang paling sentral dalam buku Existenzphilosophie tersebut yaitu penerangan eksistensi. Dengan menerangi eksistensi, kita mencapai “aku” berdasarkan intinya. Dengan menunjukan keberadaan si penanya seolah-olah sanggup masuk pada dirinya sendiri. Semua cara pengenalan yang lain hanya membuat subjek menjadi objek belaka dan lantaran itu tidak pernah mencapai saya yang sebenarnya. Bagi Jaspers keberadaan yaitu yang paling berharga dan paling otentik dalam diri manusia. Eksistensi yaitu saya yang sebenarnya, yang bersifat unik dan sama sekali tidak objektif. Dengan tak henti-hentinya keberadaan itu terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru. Biarpun pendekatan konseptual tidak sanggup mencapai eksistensi, namun keberadaan itu terbuka bagi pengalaman.
Eksistensi yaitu penghayatan mengenai kebebasan total yang merupakan inti manusia. Eksistensi sanggup dihayati, sanggup diterangi melalui refleksi filosofis dan sanggup dikomunikasikan dengan orang lain. Jaspers membedakan keberadaan dengan Dasein. Dasein yaitu keberadaan empiris insan sejauh memiliki ciri-ciri tertentu dan sanggup dilukiskan dari luar. Dasein sanggup menjadi objek pendekatan teoritis. Mencampuradukkan keberadaan sebagai dasar otentik insan dengan Dasein akan mengakibatkan materialisme. Sedangkan mengorbankan Dasein kepada eksistensi, akan berakhir dengan nihilisme. Jalan tengah antara dua ekstrim ini yaitu suatu ketegangan tetap antara Dasein dan keberadaan yang tidak mungkin ditiadakan.
Manusia tidak pernah terlepas dari situasi-situasi tertentu. Hidup dan bertindak sebagai insan berarti mengubah dan membuat situasi-situasi. Tetapi betapa pun besar perubahan-perubahan yang saya jalankan dengan acara saya, selalu tinggal bahwa saya terikat pada situasi-situasi. Bahwa saya berada dalam situasi-situasi tidak bisa ditiadakan. Hal itu merupakan "situasi batas" (grenzsituation) kata Jaspers. Dengan situasi batas dimaksudkan situasi yang tidak bisa dihindari. Di sini keberadaan menemui batas yang tidak sanggup dilewati. "Batas" berarti bahwa di belakangnya terdapat sesuatu, tetapi hal itu tidak terbuka bagi Dasein. Hanya keberadaan sanggup mengalami situasi batas dan, yang lebih penting lagi, dengan mengalami situasi batas keberadaan sanggup menghayati dirinya sendiri sebagai eksistensi. Situasi batas dianggap begitu hakiki oleh Jaspers sehingga ia mengatakan, "Mengalami situasi batas dan bereksistensi yaitu hal yang sama". Orang yang tidak hidup dengan cara eksistensial akan menghilangkan situasi batas, khususnya kematian, menyerupai akan kita lihat lagi. Ia akan menutup mata, sehingga ia tidak tahu menahu perihal situasi batas. Ia hanya akan memperhatikan situasi-situasi konkrit yang sanggup ditangani dan dikuasai, supaya ia memperoleh laba dengannya.
Dengan situasi batas dimaksudkan Jaspers secara konkrit pengalaman-pengalaman seperti, kematian, kesengsaraan, perjuangan, kebersalahan, ketergantungan pada nasib. Di antara semua situasi batas ini tentunya yang paling dramatis yaitu kematian. Dengan mengetahui perihal janjkematian pada umumnya, belum ada situasi batas. Sebagai situasi batas janjkematian dialami secara eksistensial dan konkrit, janjkematian seorang tercinta atau janjkematian saya sendiri yang semakin mendekat. Kematian mengakibatkan rasa takut, tetapi juga menyempurnakan eksistensi, alasannya yaitu kesadaran akan janjkematian serta merta mendesak saya untuk hidup otentik.
Kesadaran akan janjkematian yang tak terhindarkan akan memberi keberanian dan integritas. Oleh karenanya insan memperoleh suatu pandangan otentik perihal hal-hal yang paling penting dalam hidup. Kesengsaraan yang terdapat dalam banyak bentuk, sanggup dialami juga sebagai situasi batas. Dalam penderitaan dan kemalangan, lebih besar kemungkinan bahwa insan akan mencapai keberadaan otentik daripada dalam kemakmuran dan kebahagiaan yang tak terancam. Dalam keadaan makmur yang berlimpah-limpah arti keberadaan sering kali tinggal tersembunyi. Kesengsaraan itu mentahirkan. Oleh lantaran itu kesengsaraan tidak jarang menjadi jalan menuju pengalaman perihal "Transendensi". Kebersalahan (guilt) merupakan situasi batas yang lain lagi. Perbuatan-perbuatan saya memiliki akibat-akibat yang tidak dimaksudkan dan tidak diketahui sebelumnya. Apa lagi, motif-motif bagi perbuatan-perbuatan saya tidak selalu terang untuk orang lain maupun untuk saya sendiri dan sering dicampuri dengan motif-motif yang kurang ikhlas. Mau tidak mau saya bersalah, karena, berdasarkan kebebasan total pada dikala yang menentukan, saya sanggup menentukan cara lain. Manusia yang sungguh-sungguh bereksistensi tidak mengingkari kebersalahannya. Dengan mendapatkan kebersalahannya ia menyatakan bahwa kebebasan kita menang atas nasib melulu.
Dengan itu kita sudah menyinggung kebebasan, suatu tema penting dalam filsafat Jaspers, menyerupai halnya dalam setiap eksistensialisme. Kebebasan berarti memilih, menyadari, mengidentifikasi diri dengan dirinya sendiri. Kebebasan yaitu inti kehidupan manusia. Saya ada dalam arti kata yang sebetulnya sejauh saya menentukan secara bebas. Dalam bidang kebebasan, Jaspers tidak seekstrim Sartre, lantaran ia lebih menggarisbawahi historisitas manusia, terlebih pilihan-pilihannya di waktu lampau. Tetapi di dalam batas-batas historisitas itu kebebasan saya bersifat total. Kebebasan dialami sebagai spotanitas dan aktivitas. Karena itu perilaku melibatkan diri harus dianggap lebih hakiki bagi keberadaan daripada perilaku teoretis. Sebetulnya, alasan utama untuk melaksanakan "penerangan eksistensi" tidak lain daripada mengerti dan berguru memakai kebebasan.
Hubungan insan dengan sesama insan merupakan tema lain yang diberi banyak perhatian dalam buku Jaspers. Penerangan keberadaan tidak sanggup dicapai, kalau saya tidak rela membuka diri untuk orang lain. Eksistensi gres hingga terwujud, jikalau saya memberanikan diri secara radikal dan tanpa syarat menyerahkan diri kepada orang lain. Hal ini berlangsung dalam komunikasi, suatu pengertian yang memainkan peranan penting sekali dalam pedoman Jaspers. Komunikasi hanya sanggup berlangsung antara keberadaan dengan eksistensi. Ia melukiskan komunikasi yang sejati sebagai perasaan bahwa sudah dari baka orang mengenal satu sama lain. Puncaknya terdapat dalam cinta. Seperti diakuinya sendiri, dengan begitu menekankan komunikasi Jaspers mengungkapkan suatu pengalaman pribadi, alasannya yaitu komunikasi selalu menduduki kawasan istimewa dalam hidupnya (komunikasi dengan orang tua, sahabat-sahabatnya , dan khususnya Ernest Mayer, teristimewa dengan istrinya Gerturd Mayer)
Metafisika
Berdasarkan orientasi dalam dunia sudah menjadi terang bahwa dunia tidak merupakan Ada yang sebenarnya, bahwa Ada yang sebetulnya mengatasi segala realitas duniawi atau dengan kata lain bersifat transenden. Tetapi pengalaman ini hanya bersifat negatif, berarti pedoman menghadapi tapal batas yang tidak mungkin di lewati. Apa yang hanya dialami secara negatif dalam orientasi saya dalam dunia, tampak secara positif dalam penerangan eksistensi. Dalam komunikasi yang sejati dan dalam situasi-situasi batas, saya mengalami "Transendensi". Pengalaman eksistensial perihal Transendensi tidak sanggup dirumuskan dengan memuaskan, lantaran Transendensi itu merupakan yang tak terperikan dan yang tak sanggup dikenal. Karena kita tak sanggup memikirkan "yang Transenden" secara objektif (sebagai objek), kita hanya sanggup berbicara perihal pengalaman mengenai Transendensi secara simbolis.
Eksistensi tidak memiliki dasarnya dalam dirinya sendiri, tetapi dasarnya ialah transendensi. Baru lantaran korelasi dengan Transendensi, insan menjadi keberadaan yang sungguh-sungguh. Yang dimaksudkan Jaspers dengan Transendensi dikenal dalam agama dengan nama "Allah". Maka dari itu Jaspers sanggup menyampaikan juga: Setiap keberadaan secara pribadi terarah kepada Allah.
Transendensi tidak berstatus objek dan tidak bisa dijadikan objek bagi pemikiran. Transendensi hanya bisa didekati melalui Chiffren, suatu istilah yang dipinjam Jaspers dari Pascal. Yang dimaksudkannya dengan Chiffren (Inggris:ciphers) ialah simbol-simbol atau goresan pena sandi yang menunjuk kepada "yang Transendensi". Tugas utama metafisika ialah membaca dan menginterpretasikan simbol-simbol itu. Simbol-simbol itu terdapat dalam banyak bentuk. Bisa terjadi secara mendadak dan impulsif suatu data empiris menjadi simbol, misalnya, pemandangan alam yang sangat indah. Tetapi simbol-simbol itu terdapat juga dalam kesenian atau agama (mitos-mitos, dogma-dogma, diskusi-diskusi teologis). Jadi, berdasarkan Jaspers dogma-dogma religius dihentikan dimengerti secara harfiah, tetapi harus ditafsirkan secara simbolis. Dalam konteks ini sanggup kita mengerti terjadinya diskusi antara Karl Jaspers dengan teolog protestan besar, Rudolf Bultmann, perihal duduk kasus demitologisasi. Menurut Bultmann, agama Nasrani harus dibersihkan dari segala unsur mistis, inilah satu-satunya cara untuk mencocokkan agama Nasrani dengan zaman modern. Tetapi berdasarkan Jaspers agama tidak sanggup dilepaskan dari unsur-unsur mistisnya, lantaran mitologi harus dianggap hakiki bagi agama itu sendiri. Juga filsafat-filsafat spekulatif yang besar dipandang oleh Jaspers sebagai simbol-simbol, filsafat-filsafat ini merupakan usaha untuk membaca goresan pena sandi (tentang Transendensi) dan hasilnya filsafat-filsafat itu sendiri menjadi goresan pena sandi juga.
Dalam karangan-karangan setelah filsafat, Jaspers mengemukakan pengertian das Umgreifende untuk melengkapi pemikirannya perihal Transendensi. Ini menjadi istilah kunci dalam metafisikanya. Kata das Umgreifende itu sukar untuk diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Dalam terjemahan Inggris umumnya digunakan the Encompassing, dalam bahasa Indonesia sanggup kita pakai "yang melingkupi".
Menurut Jaspers, melalui jalan filosofis ini kita juga sanggup mengerti lebih baik arti mistik. Sejak ribuan tahun, di Timur maupun di Barat, para mistisi menyampaikan bahwa insan bisa mengatasi ketegangan antara subjek dan objek dengan kesatuan antara kedua-duanya, sehingga objektivitas lenyap, dan "aku" terlebur. Para mistisi menekankan juga bahwa pengalaman mereka itu tidak sanggup dirumuskan. Bahasa kita memang selalu cenderung untuk mengobjektivikasikan.
Di sini tidak mungkin tidak mungkin membahas lebih terperinci pedoman Jaspers perihal "yang Melingkupi" yang serba kaya dan serba sulit itu. Dari satu segi sanggup dikatakan bahwa Allah dan dunia merupakan "yang Melingkupi". Tetapi dari segi lain sanggup dikatakan pula bahwa kita sendiri yaitu "yang Melingkupi".
Download di Sini
Baca Juga
Karl Jaspers. Biografi
Sumber:
Bertens, K. "Filsafat Barat Kontemporer, Prancis". 2001. Gramedia. Jakarta
Belum ada Komentar untuk "Eksistensialisme Karl Jaspers"
Posting Komentar